Salam Darah Ungu

Merger, Persik Didesain Seperti Barcelona

Manajemen Persik Kediri tengah merombak struktur kepengurusan dan pengelolaan klub. Selama ini pengelolaan organisasi dinilai tak profesional dan cenderung menghamburkan keuangan pemerintah.
Bendahara Persik Wisnu Arya mengatakan penggabungan Persik dan Minangkabau FC yang dikelola konsorsium mengharuskan Persik meninggalkan manajemen konvensional yang karut-marut. "Selama ini kami nggak pernah kontrol dengan keuangan," kata Arya, Sabtu 20 Agustus 2011.

Terbukanya kran APBD dari Pemkot Kediri telah menjadikan Persik anak manja. Semua kebutuhan dipenuhi pemerintah tanpa berusaha mencari sumber dana yang lain. Bahkan, menurut Arya, tak ada satu pun perencanaan keuangan yang disusun rijik. "Karena kami berpikir ini uang negara dan perlu dikembalikan," ujarnya.

Pola manajerial itulah yang saat ini mulai dirombak. Apalagi konsorsium juga telah mematok beberapa target pendapatan klub dalam waktu tiga tahun. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan Persik kepada konsorsium dan kreatif dalam mendulang pendapatan.

Karena itu, masih menurut Arya, manajemen yang baru memprioritaskan pada urusan internal pada tiga tahun pertama penandatanganan merger. "Soal prestasi urusan belakangan," katanya.

Beberapa langkah produktivitas yang akan ditempuh Persik adalah mendirikan akademi sepak bola, koperasi Persikmania, dan menaikkan harga tiket pertandingan. Harga tiket saat ini yang hanya Rp 15 ribu dinilai tak sehat untuk keuangan klub. Apalagi target konsorsium adalah penjualan tiket bisa menopang 20 persen subsidi yang mereka berikan.

Selain itu, Persik juga mempersiapkan akademi bola yang menampung bibit unggul di tiap daerah. Akademi ini juga menerima pemain lokal untuk disulap menjadi profesional. Selain menguntungkan dari segi bisnis, kebutuhan pemain muda Persik juga teratasi. "Pokoknya kami ingin menjadikan Persik seperti Barcelona," ucap Arya.

Wali Kota Kediri Samsul Ashar memastikan meski sebagian besar kepemilikan saham Persik dikuasai Minangkabau, entitas tim berjuluk "Macan Putih" ini tetap milik Kediri. "Markas Persik juga tetap di Kediri," ucapnya.

Penjelasan itu disampaikan Samsul menyusul protes Persikmania yang mengkhawatirkan dampak penggabungan itu. Sementara secara finansial manajemen Persik tak punya kemampuan untuk mandiri. 

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Manajemen Persik Kediri tengah merombak struktur kepengurusan dan pengelolaan klub. Selama ini pengelolaan organisasi dinilai tak profesional dan cenderung menghamburkan keuangan pemerintah.

Anonim mengatakan...

mimpi itu boleh.....tapi kalo mimpinya jadi barcelona itu low????
hhhmmmm.....malah membingungkan,tapi boleh lah walaupun nie mimpi bisa jd kenyataan atao tdk,
saya akan dukung persik sampai darah penghabisan....
persik kebanggaan kota tercintaku......
SEMOGA JAYA PERSIK KU........

Anonim mengatakan...

Yang penting jgn smpe nmnya d ganti minangkabau fc dn kaosnya tdak identik dgn ungu-ungu lg...
Persik kediri tetap tim kediri,,

Posting Komentar

PERSIK MANIA GANK "Gabungan ANak Kediri"

 
Design by Anton Satria | Bloggerized by PERSIK MANIA GANK - Persik Kediri